My short story V : Tentang masa lalu

on Sunday, 12 December 2010
“Dan jika suatu hari nanti aku bisa menjadi apa yang aku inginkan, aku akan membahagiakan orang-orang terdekatku. Orang tuaku, adikku serta teman-temanku. Aku tidak akan melupakan teman-teman di Vidatra, teman seperjuanganku”


Semua perkataan itu masih terekam jelas di memoriku. Tentang semua apa yang menjadi keinginannya sebelum ia pergi jauh. Aku bukan siapa-siapanya. Hanya sebatas teman tanpa ada perasaan.
Tempat ini beserta pemandangannya mengingatkanku pada sepuluh tahun lalu. Kami dan yang lainnya masih disini. Menunggu giliran untuk tampil berekspresi. Penuh semangat, penuh percaya diri, dan penuh emosi. Berusaha untuk menjadi pemenang dalam perlombaan ini.

Ala tipang tipang tipang orabayo
Ala tipang tipang rudempo 2x
Ini bulan K3(katanya-katanya)
Paling banyak razia (katanya-katanya)
Safetynya jangan lupa
(bla bla bla lupa)

Ini regu sumut (ini regu sumut)
Suka makan belut (suka makan belut)
Muka kayak curut (muka kayak curut)
Ini regu sumuut.. Yang paling imut!

Ku takut mama ku marah
Ku takut papa ku marah
Ku takut mereka marah
Kalo nanti kita kalah

Rasa sayange rasa sayang sayange..
Hee lihat dari jauh rasa sayang sayange..
Kalau ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi..
Kalau ada umur yang panjang boleh kita berjumpa lagi..

Aku tertawa kecil mengingat itu semua. Tak ada yang lebih indah dari pada masa remaja dulu.

“Hee.. tangkaappp diaaaa!!” Seseorang berusaha menangkap bola. Seorang yang lain berusaha menghalang-halangi musuhnya. Yap.. Dua point berhasil didapat tim lawan.
“Prriiiiitttt,” suara peluit Pak Hari memberi isyarat untuk pemain selanjutnya memukul bola.
“Apaa Fiq. Awas kamu kencang-kencang lemparnyaa,”
“Hehehe..”
“Cieeeeee,” sorak teman-teman lain.
“Buuk!” bola terhempas jauh.
“Tangkap itu cepaat tangkaappp!!!”
Aku berlari sekuat tenaga melewati pol-pol hingga sampai ke home.
“Priiiittt, prittt, prrriiitt,” kembali, suara peluit mengakhiri permainan.
“Hah, payah! Kurang kuat kamu tuh larinya. Sprinter dong sprinter,”
“Terbang aja kamu kalo mau cepat,”
“Merajuk lagi. Dasar wanita,”
“Dasar lelaki, maunya menang terus,”

Aku meneteskan air mata mengingat semua peristiwa itu. Peristiwa yang tidak mungkin dan tidak akan terulang kembali. Karna hidup hanya sekali saja, maka aku akan menyimpan kenangan itu baik-baik dalam benakku. Waktu telah berjalan secepat yang aku kira. Meninggalkanku tanpa ada kesempatan untuk memperbaiki dan mengulang. Sejujurnya, jika disuruh untuk memilih aku tidak mau meninggalkan masa dulu. Masa yang tenang, ceria, dengan emosi yang labil, banyak canda, tanpa beban, bebas berekspresi, saling berkompetisi, dan berorganisasi dalam lingkup kecil. Oh Tuhan, terima kasih telah memberiku pengalaman yang begitu indah, telah memberiku teman-teman yang bersahabat, teman-teman yang mampu ku ingat namanya hingga sekarang. Meskipun diantara mereka sudah tiada.
Tidak ada yang bisa ku lakukan untuk mereka semua selain melukiskan rasa bahagia ini dalam tulisan ini. Untuk tetap bisa mengingat mereka di waktu yang akan datang. Kapan kita akan bertemu lagi? Kapan kita bercanda lagi seperti dulu? Mungkin sangat sulit untuk mengumpulkan kita semua sekelas dalam tempat yang sama dan di masa yang berbeda. Kalau dulu ketika ada perlombaan antarkelas, kita selalu kompakan untuk ngumpul di suatu tempat yang telah ditentukan.

“Perhatian! Untuk semua warga FIREFOX nanti malam habis Isya berkumpul di rumah Bina untuk persiapan karnaval. Terima kasih!” (gaya bicaranya Febri)

Dan kalau kita datang ke rumah Bina pada saat itu, pasti sudah berkumpul semua untuk memulai pekerjaan persiapan karnaval. Tapi bila mengingat kondisi sekarang, apabila kita tinggal sms atau melalui telepon untuk pengumuman berkumpul habis Isya malam ini, mungkin ada yang bisa, ada yang harus menunggu pesawat, ada yang mencari carteran innova dulu, atau naik bus patas untuk menempuh tujuan. Ya. Kita telah berpencar. Bertransmigrasi dan berurbanisasi ke tempat-tempat yang berbeda. Keluar dari sarang yang selama ini menjadi tempat bertahan hidup dari nol sampai sekitar delapan belas tahun.
Namun, disinilah awal kami semua bertemu. Menimba ilmu, mencari jati diri, puber, lulus sd, smp, dan sma. Waktu kecil kami dihabiskan di kota ini. Kota Bontang. Merasakan kesenangan dan kesedihan bersama sebagai satu keluarga. Satu Firefox. Kesenangan kami dapatkan ketika berhasil menjadi juara dalam berbagai lomba. Lomba Karnaval (republik mimpi), lomba K3, dan lomba gerak jalan (ultah Vidatra).
Kesedihan. Kesedihan kami rasakan ketika kami harus kehilangan sahabat kami (sewaktu kelas 1 sma). Sahabat terbaik yang kami punya. Sahabat yang dulu selalu menjadi kebanggaan sekolah kami. Aku tak kuasa menyebutkan namanya di sini. Sudah cukup bagi ku untuk mengingat semua kenangan tentang dia bersama teman-teman yang lain.

Perjalanan hidupku ini
Bagaikan sebuah permainan
Penuh liku yang berarti
Namun jadi tantangan

Ku coba renungkan hidupku
Masih kah ku bisa tertawa
Dalam sempitnya waktu
Dikehidupan ini

Ku tau aku hanya manusia
Takkan bisa ku sempurna

Dan ku terus melangkah
Jalani hidup tuk jadi mudah
Meskipun memang berat
Akan ku jadikan semua itu anugrah

(Puisi oleh A.R.)



Dan aku berdiri dari tempat dudukku. Berdiri dan melihat sejauh mata memandang dari tribun ini. Bernostalgia tentang masa lalu. Masa yang indah. Tetap ingatlah masa-masa indah yang ku ceritakan itu. Karena suatu saat jika kalian mengingatnya pasti akan merasa ingin kembali pada masa lalu.

semoga berada di sisi-Nya (Alm. Afiq Rashif)

3 komentar:

sulis said...

sebuah kisah klasik, , ,
bagus jg coretan tanganmu fin . . .
kembangkan bakatmu. . .
okey !!!!

madecantik said...

oalah, inikan yang pernah kamu tunjukin pas kita ngumpulin resensi di depan aula kan pin?
hihi, jadi kangen FIREFOX ;)

Anonymous said...

nice story.. tpi tokohnya kurang aku
hhahahahaha just for laugh

terusin bakat menulisnya yahh

by, purple