Aplikasi Bakteri Asam Laktat Hasil Fermentasi Limbah Kubis sebagai Pengawet Alami Ikan Segar

on Thursday, 16 February 2012
Oleh : Afina Alfasia, Ilham Ayuning Tanjung Sari, Viola
SMA Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra
Kompetisi Karya Tulis Ilmiah 2012
Chemist Fun Day
Universitas Mulawarman
ABSTRAK

Larutan limbah kubis (Brassica oleracea) adalah hasil dari fermentasi limbah kubis. Larutan ini dapat digunakan sebagai pengawet alami pada makanan. Penelitian ini dilakukan karena maraknya penggunaan zat kimia berbahaya seperti formalin yang digunakan sebagai bahan pengawet pada makanan. Larutan limbah kubis yang digunakan sebagai pengawet pada ikan menghasilkan asam laktat yang dapat menurunkan pH sehingga bersifat asam dan dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri perusak dan pembusuk pada makanan terhambat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas larutan limbah kubis (Brassica oleracea) dalam mengawetkan ikan, mencari alternatif bahan pengawet alami makanan, memanfaatkan limbah kubis sebagai pengawet alami makanan yang mudah dan efisien, meningkatkan produksi usaha pangan khususnya ikan di daerah Kalimantan Timur serta memberikan informasi kepada masyarakat bahwa limbah kubis dapat dimanfaatkan menjadi bahan pengawet alami makanan yang tidak berbahaya.
Penelitian ini bersifat eksperimen. Objek penelitian ini adalah ikan tambak. Penelitian ini dilakukan dengan empat perlakukan yaitu ikan tambak tanpa perendaman (kontrol), ikan tambak direndam selama 5 menit, ikan tambak  direndam selama 30 menit, dan ikan tamabak direndam selama 1 jam. Hasil penelitian menujukkan bahwa ikan paling awet jika direndam dalam jangka waktu  1 jam dengan masa simpan 13 hari.
Dengan demikian diharapkan para produsen makanan tidak menggunakan formalin sebagai bahan pengawet pada makanan dan beralih menggunakan larutan hasil fermentasi limbah kubis sebagai pengawet alami makanan.

BAB
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Maraknya penggunaan formalin di Indonesia sebagai bahan pengawet pada makanan terutama ikan segar merupakan bentuk penyalahgunaan fungsi dari formalin. Formalin tidak diperkenankan ada dalam makanan maupun minuman, karena dalam jangka panjang dapat memicu perkembangan sel-sel kanker. Hal ini dilakukan produsen karena belum menemukan jalan keluar untuk dapat mempertahankan kualitas ikan dalam jangka waktu yang lama dengan menggunakan pengawet alami makanan yang ada saat ini. Harga yang terjangkau serta pemakaian yang mudah membuat para produsen lebih memilih pengawet buatan yang berbahaya seperti formalin dibandingkan pengawet alami.
Penanggulangan  masalah tersebut dapat diatasi dengan mencari alternatif bahan pengawet makanan yang mudah didapat dan efisien. Kombinasi fermentasi limbah kubis dan penyimpanan suhu rendah dapat memperpanjang masa simpan ikan. Limbah kubis yang umumnya sudah tidak dapat digunakan lagi ternyata bisa menjadi jalan keluar bagi masalah ini. Pemanfaatan limbah kubis dalam proses fermentasi dapat menghasilkan bakteri asam laktat yang dapat menghambat proses pembusukkan pada ikan karena bersifat membunuh bakteri pembusuk.
Penyimpanan ikan pada suhu rendah juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk karena sebagian besar bakteri tidak dapat hidup pada suhu 5 -10o C. Namun, meskipun telah disimpan pada suhu rendah masih ada saja bakteri pembusuk yang dapat bertahan. Oleh karena itu diperlukan penambahan bakteri asam laktat pada ikan untuk memperpanjang kualitas dan masa simpan ikan.
 
Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah yang dikemukakan di atas, penulis akan membahas empat masalah yang timbul yaitu:
1.    Bagaimanakah proses fermentasi limbah kubis?
2.    Apa yang menyebabkan hasil fermentasi limbah kubis dapat digunakan sebagai pengawet alami pada ikan?
3.    Bagaimana pengaruh waktu rendaman ikan dalam larutan fermentasi limbah kubis terhadap masa simpan ikan?

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.    Mengetahui proses fermentasi limbah kubis.
2.    Mengetahui penyebab hasil fermentasi limbah kubis dapat digunakan sebagai pengawet alami pada ikan.
3.    Mengetahui pengaruh waktu rendaman ikan dalam larutan fermentasi limbah kubis terhadap masa simpan ikan.
4.    Mengetahui pengaruh penyimpanan ikan yang telah direndam dalam larutan fermentasi limbah kubis dalam suhu rendah.
5.    Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa limbah kubis dapat dimanfaatkan menjadi bahan pengawet alami makanan yang tidak berbahaya.

Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.    Memberikan alternatif bahan pengawet alami makanan yang mudah dan efisien.
2.    Menambah pengetahuan di bidang ilmu pengetahuan dan di bidang kesehatan pangan.


BAB
TINJAUAN PUSTAKA

Landasan Teori
Berbagai cara di tempuh manusia untuk mengawetkan makanan. Tidak jarang produsen menggunakan pengawet berbahaya untuk mengawetkan makanan karena harganya lebih terjangkau dan masa simpannya lebih tahan lama dibandingkan dengan pengawet alami. Perlunya informasi yang baik mengenai pengawetan makanan dapat membantu masyarakat untuk memilih makanan yang bebas dari pengawet makanan berbahaya.

Bakteri Asam Laktat
Bakteri asam laktat adalah kelompok bakteri gram-positif yang tidak membentuk spora dan dapat memfermentasikan karbohidrat untuk menghasilkan asam laktat. Sebagian besar bakteri asam laktat dapat tumbuh sama baiknya di lingkungan yang memiliki dan tidak memiliki O2 (tidak sensitif terhadap O2), sehingga termasuk anaerob aerotoleran. Bakteri yang tergolong dalam bakteri asam laktat memiliki beberapa karakteristik tertentu yang meliputi: tidak memiliki porfirin dan sitokrom, katalase negatif, tidak melakukan fosforilasi transpor elektron, dan hanya mendapatkan energi dari fosforilasi substrat. Hampir semua bakteri asam laktat hanya memperoleh energi dari metabolisme gula sehingga habitat pertumbuhannya hanya terbatas pada lingkungan yang menyediakan cukup gula atau bisa disebut dengan lingkungan yang kaya nutrisi. Kemampuan mereka untuk menghasilkan senyawa (biosintesis) juga terbatas dan kebutuhan nutrisi kompleks bakteri asam laktat meliputi asam amino, vitamin, purin, dan pirimidin (Wikipedia, 2012).
Bakteri asam laktat dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain dengan memproduksi protein yang disebut bakteriosin. Salah satu contoh bakteriosin yang dikenal luas adalah nisin, diproduksi oleh Lactobacillus lactis ssp. lactis. Nisin dapat menghambat pertumbuhan beberapa bakteri, yaitu Bacillus, Clostridium, Staphylococcus, dan Listeria. Senyawa bakteriosin yang diproduksi bakteri asam laktat dapat bermanfaat karena menghambat bakteri patogen yang dapat merusak makanan ataupun membahayakan kesehatan manusia, sehingga keamanan makanan lebih terjamin.

Fermentasi
Pengawetan makanan adalah cara yang digunakan untuk membuat makanan memiliki daya simpan yang lama serta mempertahankan sifat-sifat fisik dan kimia makanan sehingga tidak terjadi penurunan kualitas makanan tersebut, dengan kata lain tidak terjadi proses pembusukan. Dalam mengawetkan makanan harus diperhatikan jenis bahan makanan yang diawetkan, keadaan bahan makanan, cara pengawetan, dan daya tarik produk pengawetan makanan.
Proses pengawetan makanan dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan memanfaatkan bakteri yang bersifat antagonis terhadap bakteri pembusuk dan patogen pada bahan pangan, misalnya bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat dapat dihasilkan dengan cara fermentasi asam laktat.
Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.

Limbah Kubis
 Kubis (Brassica olerace) merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak tumbuh di daerah dataran tinggi. Jenis kubis ada beberapa macam, diantaranya kubis putih dan kubis hijau. Selama ini kubis dijual hanya sebagai sayuran saja dalam jumlah kecil (Wikipedia, 2011). Pemakaian kubis sebagai sayuran terkadang menghasilkan limbah yang tidak pernah digunakan. Kita dapat menjumpai limbah kubis di pasar. Seringkali produsen membuang lapisan terluar kubis karena tidak layak untuk dikonsumsi akibat faktor kotor dan dapat menurunkan harga jual.  
Akan tetapi limbah kubis yang biasanya tidak digunakan tersebut masih menyimpan kandungan gizi, terutama karbohidrat untuk dimanfaatkan dalam fermentasi asam laktat untuk menghasilkan bakteri asam laktat.
Tabel 1 : Kandungan gizi limbah kubis mentah, energi 103 kJ (25 kcal)
Kandungan Gizi
Nilai gizi per 100 g (3.5 oz)
Karbohidrat
5,8 g
Gula
3,2 g
Diet serat
2,5 g
Lemak
0,1 g
Protein
1,28 g

Fermentasi limbah kubis dalam jangka waktu tertentu akan menghasilkan bakteri asam laktat yang dapat digunakan sebagai pengawet alami pada makanan.
 
Penyimpanan pada Suhu Rendah
Suhu lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan pembusukan pada daging ikan. Penyimpanan pada suhu rendah diketahui dapat memperlambat proses kemunduran mutu dan memperpanjang masa hidup jaringan-jaringan di dalam bahan pangan dengan menghambat aktivitas enzim dan bakteri pembusuk. Namun, beberapa bakteri pembusuk mampu bertahan pada penyimpanan suhu rendah karena proses ini bersifat menghambat pertumbuhan bukan untuk membunuh atau menghentikan mikroorganisme sama sekali.

Uraian Mengenai Pendapat Terdahulu yang Berkaitan dengan Masalah yang Dikaji

Dikompilasi oleh :
Hengky K. Martin, Universitas Padjajaran2010

Larutan Fermentasi Selada sebagai Pengawet Alami
Penanganan pascapanen produk perikanan merupakan hal yang penting untuk dicermati karena akan berpengaruh pada kualitas produk yang akan dihasilkan dan nilai jualnya. Namun, penanganan pascapanen pada tingkat nelayan tradisional atau pembudidaya masih rendah, misalnya tempat pelelangan ikan dan pasar ikan tradisional di Indramayu sebagian besar penanganan ikan masih didominasi oleh penggunaan es sebagai media pengawet. Es dapat memperpanjang masa simpan ikan, namun ada beberapa bakteri pembusuk yang dapat bertahan pada suhu rendah, sehingga diperlukan kombinasi penggunaan zat antibakteri sebagai bahan pengawet. Terdapat banyak sekali alternatif bahan pengawet yang dapat digunakan untuk pengawetan bahan pangan, mulai dari yang alami sampai bahan-bahan kimia yang bersifat antibakteri atau pun yang bersifat antioksidan. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melilih dan menggunakan bahan pengawet, yaitu sifat kimia dan antibakteri dari bahan pengawet tersebut, sifat dan komposisi bahan pangan, jenis dan jumlah mikroorganisme yang terdapat pada bahan pangan, kepastian bahwa bahan pengawet tersebut tidak merugikan kualitas produk, ekonomis, dan yang terpenting  adalah keamanannya.

Salah satu bahan pengawet alami yang aman dan secara efektif mampu mengawetkan ikan segar melalui prinsip-prinsip biologis adalah larutan fermentasi selada. Larutan fermentasi selada merupakan starter bakteri asam laktat. Selain memproduksi bakteri asam laktat, larutan fermentasi selada juga mengandung senyawa antibakteri seperti asam organik dan hasil metabolit lainnya yang dapat berfungsi secara langsung untuk menghambat atau membunuh bakteri pembusuk.
Selada (Lactuca sativa) merupakan salah satu jenis sayuran komersial yang memiliki sifat mudah layu, rusak, dan busuk. Selada merupakan tumbuhan sayur yang biasa ditanam di daerah beriklim sedang maupun daerah tropika. Selama ini pemanfaatan selada hanya sebatas untuk dikonsumsi, namun selada juga dapat dimanfaatkan sebagai starter bakteri asam laktat yang mampu memperpanjang masa simpan bahan pangan. Selada mempunyai tingkat kandungan nutrisi yang dapat memacu pertumbuhan berbagai jenis bakteri asam laktat dalam proses fermentasi. Selada merupakan isolat yang menghasilkan persentase asam laktat yang tinggi. Fermentasi selada lebih aman digunakan dibandingkan dengan zat antibakteri lain yang bersifat kimia. Penggunaan larutan fermentasi selada sebagai pengawet alami pada ikan dapat memperpanjang masa simpan ikan, selain itu dapat meningkatkan pemanfaatan selada selain untuk dikonsumsi.
Pada fermentasi selada, L. mesenteroides dapat tumbuh lebih cepat dari bakteri asam laktat lainnya. Dalam pertumbuhannya bakteri ini menghasilkan karbondioksida dan asam laktat yang dapat dengan cepat menurunkan pH sehingga menghambat bakteri yang tidak diinginkan keberadaannya. Karbondioksida menggantikan udara dan menciptakan suatu kondisi anaerobik yang merupakan kondisi lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan spesies bakteri-bakteri asam laktat yang lainnya secara berurutan. Akan tetapi pertumbuhan dari setiap spesies berlangsung berdasarkan urutan toleransi asamnya sehingga akan selalu ada pertumbuhan yang saling tumpang tindih.
Pada proses fermentasi selada, jenis bakteri asam laktat yang memiliki sifat lebih tahan terhadap kondisi asam dibandingkan jenis bakteri asam laktat lainnya, yaitu L. plantarum baru terhitung setelah hari ke-4. Jumlah bakteri L. plantarum mencapai maksimum pada hari ke-10 dan setelah itu akan mengalami penurunan sampai akhirnya pada hari ke-20 sudah tidak terdapat lagi dalam substrat fermentasi.

BAB
METODOLOGI PENELITIAN

Sumber Literatur dan Data
Eksperimen
Untuk membuktikan bahwa larutan fermentasi limbah kubis dapat menghasilkan bakteri asam laktat yang dapat digunakan sebagai pengawet, maka kami melakukan percobaan langsung dengan cara membandingkan kualitas ikan segar yang telah direndam dengan larutan fermentasi dengan ikan segar yang tidak direndam dengan larutan fermentasi.
Observasi
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan tentang penggunaan pengawet makanan khususnya pada ikan, produsen menggunakan es batu untuk menyimpan ikan dalam suhu rendah supaya tidak terjadi pembusukkan.

Pengolahan Data dan Informasi
Penulisan karya ilmiah ini didasarkan pada data primer yaitu data hasil analisis eksperimen yang telah kami lakukan. Penelitian yang kami lakukan merupakan bentuk pengembangan dari beberapa penelitian terdahulu. Pencantuman literatur yang kami pakai, kami cantumkan dalam daftar pustaka pada karya tulis ini.
Waktu dan Tempat Penelitian
pelaksanaan                 : 26 hari
waktu                          : 22 Desember 2011 - 16 Januari 2012
tempat                         : laboratorium Kimia SMA YPVDP.
Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel, yaitu variabel bebas, variabel kontrol, dan variabel terikat.
Variabel bebas             : perendaman ikan
Variabel kontrol          : suhu dan jumlah ikan
Variabel terikat            : masa simpan ikan
BAB
ANALISIS DAN SINTESIS

Analisis
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pengaruh larutan hasil fermentasi limbah kubis sebagai pengawet ikan segar adalah sebagai berikut:

Tabel 3 : Hasil penelitian pengaruh larutan hasil fermentasi limbah kubis terhadap masa simpan ikan

No.
Objek yang ditelilti
Lama perendaman
Masa simpan
1.
Ikan A
tanpa perendaman
2 hari
2.
Ikan B
5 menit
5 hari
3.
Ikan C
30 menit
9 hari
4.
Ikan D
1 jam
13 hari



Ikan dengan perendaman 5 menit

Ikan dengan perendaman 30 menit

Ikan dengan perendaman 1 jam

 Ikan kontrol (tanpa perendaman)
 

Sintesis
Proses fermentasi limbah kubis langkah pertama adalah menyiapkan alat dan bahan. Adapun alat yang digunakan adalah pisau, neraca ohauss, toples, sendok, cling warp, plastik hitam, dan baskom. Sedangkan bahan yang digunakan adalah limbah kubis, ikan tambak segar, garam, dan air. Langkah kedua adalah mengiris limbah kubis sepanjang dua sentimeter kemudian irisan tersebut ditimbang sebanyak 100 gram selanjutnya dimasukkan ke dalam toples yang bagian luarnya ditutup dengan kantong plastik berwarna hitam. Langkah selanjutnya adalah menambahkan irisan limbah kubis dengan larutan garam 2,5%  dengan konsentrasi limbah kubis 100g/L kemudian diaduk rata dan ditutup rapat. Limbah kubis tersebut diinkubasi (didiamkan) selama enam hari pada suhu ruang dan dibiarkan terjadi proses fermentasi. Proses inkubasi limbah kubis harus bebas dari oksigen. Setelah diinkubasi, hasil fermentasi disaring sehingga diperoleh larutan fermentasi limbah kubis yang siap digunakan sebagai bahan pengawet. Penggunaan larutan fermentasi limbah kubis yakni dengan cara perendaman. Ikan direndam dalam larutan kubis dalam waktu lima menit, tiga puluh menit, dan satu jam selanjutnya ditutup menggunakan cling warp. Ikan yang telah dikemas menggunakan cling warp langsung disimpan dalam pendingin dengan suhu 5-10oC.
Fermentasi asam laktat merupakan proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Fermentasi asam laktat terbagi menjadi dua jenis, yaitu homofermentatif dan heterofermentatif. Pada penelitian kali ini proses fermentasi limbah kubis yang terjadi adalah fermentasi asam laktat jenis homofermentatif yang sebagian besar hasil akhirnya menghasilkan bakteri asam laktat. Jalur metabolisme yang digunakan pada homofermentatif adalah lintasan Embden-Meyerhof-Parnas. Beberapa contoh genus bakteri yang merupakan bakteri homofermentatif adalah Streptococcus, Enterococcus, Lactococcus, Pediococcus, dan Lactobacillus.
Mekanisme pembentukkan asam laktat adalah piruvat akan diubah menjadi asam laktat dan diikuti dengan proses transfer elektron dari NADH menjadi NAD+. 


Gambar 5 : Diagram homofermentatif pembentukan bakteri asam laktat

Proses fermentasi limbah kubis menghasilkan banyak bakteri asam laktat salah satunya jenis Lactobacillus plantarum. Bakteri ini lebih banyak dihasilkan pada tahap akhir proses fermentasi. Lactobacillus plantarum memiliki daya hambat paling tinggi terhadap pertumbuhan bakteri pembusuk dan patogen pada bahan pangan dibandingkan spesies bakteri asam laktat lainnya, penghambatannya terkait dengan produksi senyawa metabolit (asam laktat, bakteriosin dan hidrogen peroksida). Akumulasi senyawa metabolit dari bakteri asam laktat akan mengalami peningkatan seiring lamanya proses fermentasi. Produksi asam laktat oleh bakteri asam laktat akan terus meningkat, sehingga pH lingkungan dalam larutan fermentasi limbah kubis akan terus mengalami penurunan. Hasil penelitian terdahulu pada fermentasi selada menunjukkan bahwa pH terendah dicapai selama delapan belas hari yaitu pH 3,5 dengan kadar asam laktat tertinggi. Bakteri asam laktat juga menghasilkan senyawa antibakteri berupa bakteriosin dan hidrogen peroksida yang penting peranannya dalam pengawetan bahan pangan.

Gambar 6 : Bakteri Lactobacillus plantarum

Dengan penambahan bakteri asam laktat jenis Lactobacillus plantarum yang dapat menurunkan pH daging ikan ini, dapat memperlambat pertumbuhan bakteri pembusuk sehingga penguraian protein oleh bakteri pembusuk terhambat juga. Dengan terhambatnya pertumbuhan bakteri pembusuk serta penyimpanan ikan pada suhu rendah tersebut maka masa simpan ikan akan menjadi lebih lama.
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan, masa simpan ikan segar tanpa perendaman dalam larutan fermentasi limbah kubis pada suhu rendah adalah dua hari. Perendaman dalam larutan fermentasi limbah kubis selama lima menit pada suhu rendah memberikan masa simpan selama lima hari. Sedangkan penggunaan larutan fermentasi limbah kubis selama satu jam menunjukkan pengaruh terbaik terhadap masa simpan dan kualitas ikan selama penyimpanan suhu rendah, yaitu dengan batas penyimpanan hingga hari ke-13 dibandingkan dengan perendaman selama 30 menit dan penyimpanan suhu rendah dengan masa simpan sembilan hari.
Ikan A, yakni ikan tanpa perendaman air fermentasi limbah kubis mengalami pembusukan dalam waktu dua hari. Pada saat hari ke-2, ikan ini berbau menyengat, struktur ikan sudah lunak, dan memberikan penampakan bahwa ikan sudah tidak segar lagi.
Ikan B, yakni ikan dengan perendaman selama lima menit mengalami pembusukan dalam waktu lima hari. Pada saat hari ke-5, ikan ini menunjukkan tanda-tanda kebusukan yang sama seperti ikan A. Namun, dengan perendaman selama lima menit dengan menggunakan air fermentasi limbah kubis memberikan masa simpan tiga hari lebih lama dibandingkan dengan ikan A yang tidak melalui proses perendaman.
Ikan C, yakni ikan dengan perendaman selama 30 menit mengalami pembusukan dalam waktu sembilan hari. Pada saat hari ke-9, tanda-tanda kebusukan pada ikan C sama seperti ikan A dan ikan B. Namun, dengan perendaman yang lebih lama dibandingkan dengan ikan B, masa simpan ikan C adalah empat hari lebih lama.
Sedangkan Ikan D, yakni dengan perendaman selama satu jam mengalami pembusukan dalam waktu tiga belas hari dan merupakan ikan dengan masa simpan terlama dibandingkan dengan ketiga ikan yang diteliti.
Penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa bakteri asam laktat hasil fermentasi limbah kubis ternyata dapat digunakan sebagai pengawet alami pada ikan.

gambar tambahan (tidak termasuk dalam karya tulis)






 
BAB
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari data primer di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.    Larutan fermentasi limbah kubis dapat digunakan sebagai bahan pengawet alami yang mudah didapat, harga terjangkau dan tepat guna
2.    Lama perendaman dalam larutan fermentasi kubis dapat berpengaruh terhadap lama masa simpan ikan
3. Bakteri Asam Laktat menghasilkan asam laktat melalui proses fermentasi.

Saran
Berikut ini merupakan saran yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penggunaan larutan fermentasi limbah kubis atau sebagai penelitian selanjutnya:
1.    Limbah kubis dapat diganti dengan limbah sayuran lain seperti nanas yang memiliki kemampuan unggul menghasilkan asam laktat sebanyak 0,80 %
2.    Pengawetan bahan makanan tidak terbatas pada ikan saja tetapi penggunaan larutan fermentasi limbah kubis ini bisa dilakukan pada udang dan bakso ikan.


DAFTAR PUSTAKA

http://meexchild.wordpress.com. Pengawet Alami Ikan yang Murah dan Efisien Melalui Fermentasi Selada.
http://id.wikipedia.org/wiki/Fermentasi. Fermentasi.

http://eemoo-esprit.blogspot.com/2010/10/nilai-gizi-kubis-kembang-kol-cabbage.html. Nilai Kandungan Gizi Kubis - kembang kol – cabbage.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri_asam_laktat . Bakteri Asam Laktat.
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=bakteri%20asam%20laktat&source=web&cd=2&sqi=2&ved=0CCcQFjAB&url=http%3A%2F%2Fresources.unpad.ac.id%2Funpadcontent%2Fuploads%2Fpublikasi_dosen%2FPERANAN%2520BAKTERI%2520ASAM%2520LAKTAT.PDF&ei=dMH9TuaWNcfmrAeG1dHnDw&usg=AFQjCNFhuouSDFwRpyyv7F6RsarEHhYn4g&cad=rja. Peranan Bakteri Asam Laktat.
http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2012/01/07/peranan-bakteri-asam-laktat-dan-cendawan-aspergillus-niger-dalam-pengolahan-fermentasi-kacang-kedelai/. PERANAN BAKTERI ASAM LAKTAT DAN CENDAWAN Aspergillus niger DALAM PENGOLAHAN FERMENTASI KACANG KEDELAI.


notes:
Naskah karya tulis ini merupakan salah satu persyaratan lomba Chemist Fun Days 2012 yang dilaksanakan oleh Universitas Mulawarman Samarinda. KIR kami Alhamdulillah mendapatkan Juara 2 setelah penilaian presentasi dan penilaian naskah. ;D Akan tetapi, banyak masukan-masukan serta komentar dari para juri terkait dgn KIR ini. Diantaranya yaitu :
- Kesalahan konsep antara judul dengan isi yang diuraikan "Bakteri Asam Laktat" yang seharusnya "Asam Laktat" saja
- Penulisan daftar pusataka serta kutipan yang kurang sempurna
- Kesimpulan yang harus menjawab semua point pada Rumusan Masalah
- dan lain-lain

Beberapa diantara masukan2 di atas telah kami perbaiki dalam karya tulis ini.


2 komentar:

thebocor said...

penelitian mu ya?
sering - sering lah publis tentang peternakan dan pangan


makasi.....!

Devin Dwiarta said...

Ikan segar akan lebih tahan lama kualitasnya apabila disimpan pada freezer kapasitas 300 liter yang mempunyai fitur berikut ini :)